Gapura Edisi Agustus 2021

oleh -81 views


Pembaca Gapura yang terhormat

Virus corona kembali mengganas sejak pertengahan Juni hingga awal Agustus 2021. Virus yang meledak di Wuhan, Cina itu datang dengan varian baru. Yakni varian Delta. Sejumlah pakar menganggap varian ini lebih sulit dikendalikan dibandingkan Sars-Cov-2.  Varian ini meningkatkan kasus konfirmasi. Dampaknya seluruh tempat layanan kesehatan dipenuhi pasien Covid-19. Rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga tenaga medis kewalahan. Hal ini kemudian muncul persoalan baru. Angka kematian naik, banyak anak menjadi yatim piatu, kesenjangan sosial, hingga tersendatnya perekonomian.

Berdasarkan catatan BPS Surabaya, inflasi sepanjang Juli 2021 tercatat 0,20 persen. Masih lebih baik dibandingkan Juni yang mengalami deflasi 0,17 persen. Beberapa tempat ibadah kembali menutup aktivitas. Bahkan Cukup banyak tempat ibadah membatasi aktivitas dan beberapa di antaranya melakukan secara daring.

Begitu juga imbauan pemerintah untuk meniadakan salat Hari Raya Iduladha Kesiapan dan kesigapan Pemkot Surabaya sepanjang PPKM Darurat cukup taktis. Langkah pertama menggandeng Forkopimda guna menangani penyebaran virus corona di semua lini.

Tak ketinggalan di situ. Koordinasi bottom up juga dilakukan. Pemkot Surabaya menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kota/ kabupaten yang berdekatan dengan Surabaya, untuk menekan penyebaran virus dengan varian baru.

Langkah kedua, Pemkot Surabaya memenuhi kewajibannya sebagai pelayan masyarakat. Yakni dengan menyiapkan beberapa fasilitas bagi pasien Covid-19, sejak terkonfirmasi, perawatan hingga pasca perawatan. Beberapa fasilitas disulap menjadi tempat layanan pasien. Pemkot mendirikan rumah sehat di beberapa kelurahan dan menyulap Gelora Bung Tomo untuk melayani pasien Covid-19.

Semua dilakukan semata-mata guna menekan bed occupancy ratio di seluruh rumah sakit. Dua instrumen tersebut menggambarkan indikator kinerja Pemkot Surabaya, bahwa selama ditetapkannya PPKM yang berlangsung 3 Juli hingga 23 Agustus, telah ditangani dengan baik.

Hal yang tidak kalah penting adalah mendorong terciptanya herd immunity. Yakni dengan menggelar vaksinasi massal di seluruh tingkatan usia. Saat ini Pemkot Surabaya cukup gencar menggelar vaksinasi untuk pelajar di jenjang usia 12 tahun.

Alhamdulillah, perjuangan selama satu bulan berhasil dilewati Surabaya. Kota Pahlawan telah keluar dari zona merah dan kini berada di PPKM Level 3. Dalam satu bulan ke depan, Pemkot Surabaya berupaya menurunkan ke Level 2.

Kini Pemkot Surabaya dihadapkan dengan pelaksanaan  pendidikan tatap muka (PTM). Tapi pemkot enggan latah. Tidak mau meniru daerah lain. Pemerintah cukup berhati-hati karena banyak hal yang perlu dipersiapkan. Misalnya menyiapkan  penunjang pembelajaran luar lingkaran (luring) atau offline. Sebut saja penyediaan tempat cuci tangan, pembersih tangan antiseptik, alat deteksi suhu, hingga mengatur jumlah siswa yang mengikuti PTM. Langkah taktis ini perlu dilakukan uji coba untuk dilakukan evaluasi dan monitoring.

Penerapan PTM ini diharapkan bisa menggairahkan pendidikan yang sempat terhenti sejak 2020 akibat virus corona. Tidak bisa dibantah bila pembalajaran daring banyak menemui kendala. Dengan adanya PTM, bisa mereduksi beban siswa dan wali murid. Tugas sekolah tidak tersendat dan tidak perlu menunggu orang tua pulang kerja.

Oh iya, PPKM Level 3 yang didapat Surabaya ini mendorong beberapa kegiatan perekonomian berjalan. Jasa transportasi, pusat perbelanjaan, resto dan perhotelan mulai antre menunjukkan geliat. Tapi tidak mau kecolongan. Protokol kesehatan mutlak dijalankan dengan ketat. Bahkan vaksin menjadi “tiket” yang harus dipenuhi warga untuk masuk mall, hotel, kereta api dan bus jarak jauh, pesawat, hingga tempat wisata.

Kami persembahkan Majalah Gapura edisi Agustus 2021!

Sumber : Pemkot Surabaya

No More Posts Available.

No more pages to load.