Mau Tanding, Bukan Mau Perang

oleh -231 Dilihat

Sepekan ini marak berita tentang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang menurut rencana dibuka Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Provinsi Papua, Sabtu (2/10).

Semua daerah peserta “pesta” olahraga terakbar nasional itu melalui corong-corong media mainstream atau media social. Mereka sahut-menyahut menyiarkan berita atau informasi seputar kesiapan atlet yang akan berlaga.

Tujuan utama seluruh daerah sama. Membawa atlet paling tangguh milik daerahnya untuk menorehkan prestasi terbaik dengan raihan medali emas. Di semua cabang olahraga.

Di cabang olahraga terukur makin tegas, membidik prestasi tertinggi memecahkan rekor. Baik rekor nasional, rekor Asia Tenggara, rekor Asia, maupun rekor dunia. Itulah puncak prestasi yang menjadi impian ribuan atlet atau puluhan daerah peserta PON.

Tak hanya itu, ada daerah yang membawa keamanan khusus menjaga kontingennya mempertegas negara Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua, tak lagi aman akibat gangguan KKB (kelompok kriminal bersenjata) yang sering menyeruak sebagai ancaman keamanan nasional. Padahal di “belantara” perpolitikan internasional, negara Indonesia tegas-tegas menyatakan siap menghabisi perusuh-perusuh negeri, termasuk gerakan Papua merdeka, sebagai pernyataan resmi.

Tentu kondisi demikian di mata dunia internasional menjadikan arena PON kian bernilai strategis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nilai tawar sebagai negara yang memiliki kedaulatan penuh di tanah Papua makin kuat. Meski begitu, gangguan demi gangguan sekelompok orang yang menginginkan berpisah dari NKRI tetap saja bergulir dan menjadi ancaman.

Alhasil, arena PON Papua sebagai puncak kulminasi prestasi olahraga nasional tahun ini bakal seru dan akan selalu diingat dan dikenang masyarat internasional. Paling tidak, mata dunia menyaksikan perhelatan akbar olahraga nasional itu menasbihkan Indonesia tak boleh diragukan lagi sebagai pemilik sah tanah Papua.

Jadi gak kebayang kalau pelaksanaan PON diwarnai insiden buruk gangguan dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang menamakan diri sebagai Gerakan Papua Merdeka.

Gak kebayang juga kemarahan rakyat dan aparat keamanan NKRI apabila perusuh-perusuh itu berani mengacak-acak provinsi paling timur negeri ini. Pasti mereka beramai-ramai mengutuknya. Sebab, bumi cendrawasih—sebutan lain tanah Papua—bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia yang juga dijuluki si mutiara hitam dari ufuk timur bumi pertiwi. (*)

 

 

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

No More Posts Available.

No more pages to load.