Teflon 1000 Km/Jam

oleh -368 Dilihat

KERETA CEPAT Yawan sudah terlihat meluncur dari Jakarta ke Bandung. Pulang pergi. Banyak kali. Awalnya dicoba dengan kecepatan 60 km/jam. Lalu dinaikkan. Dinaikkan lagi. Sampai akhirnya nanti bisa 350 km/jam. Ya Jiada-Wanlong hanya 30 menit.

Akhirnya Indonesia masuk peta dunia: sebagai sedikit negara yang punya kereta cepat. Anda sudah tahu: perintisnya dulu adalah Jepang. Sudah sejak Anda belum lahir: 1964. Bersamaan dengan Olimpiade Tokyo yang pertama.

Jepang pun jadi juara dunia. Begitu lama. Eropa, apalagi Amerika, seperti tidak tertarik ke kereta cepat. Baru 50 tahun kemudian Spanyol masuk ke persaingan itu.

Lalu muncul kejutan baru: Tiongkok. Tahun 2007. Jurusan Beijing-Tianjin. Setahun setelah saya transplantasi hati di Tianjin. Kereta Beijing-Tiannin itu sekaligus mengalahkan Jepang –kecepatannya maupun jumlahnya.

Sebelum itu pun Tiongkok sudah mencoba kereta yang lebih cepat: 430 km/jam. Maglev Shanghai. Tahun 2011. Roda keretanya sedikit mengambang di atas rel. Gesekan roda dengan rel membuat gerak roda kereta terhambat.

Proyek Maglev itu akhirnya tidak dikembangkan: tetap hanya dari Bandara Pudong ke kota baru Shanghai di Pudong. Rencana meneruskannya sampai kota Hangzhou dibatalkan. Terlalu cepat. Terlalu mahal. Dan, yang terpenting, terlalu asing: Jerman tidak mau mengalihkan teknologi maglev ke Tiongkok.

Lalu Tiongkok bikin kereta cepat sendiri: 350 km/jam. Proyek pertamanya di jalur Beijing-Tianjin. Jalur pendek –untuk ukuran Tiongkok: sekitar 120 km.

Saya beruntung bisa mencoba maglev Shanghai maupun Beijing-Tianjin ketika baru diresmikan.

Setelah empat kali naik maglev saya tidak mau lagi. Tidak praktis. Tujuan saya biasanya pusat kota Shanghai. Kalau turun di stasiun maglev Pudong saya masih harus naik taksi ke Puxi. Pudong di timur sungai Pu, Puxi di barat sungai Pu. Banyak jembatan di atas sungai Pu. Juga banyak terowongan bawah sungai. Tapi pindah-pindah moda angkutan tetap tidak praktis.

Ups…saya salah. Maglev ternyata sempat dikembangkan di satu lokasi lagi. Saya baru tahu itu akhir April lalu. Yakni ketika saya ”ziarah” ke patung Mao Zedong di kota Changsha.

Ada maglev di Changsha. Juga dari bandara ke kota saja. Itu baru dibangun tahun 2016 lalu. Jaraknya hanya 18 km. Itulah maglev yang menggunakan teknologi Tiongkok sendiri.

Kecepatannya hanya 140 km/jam. Maka dari bandara ke kota Changsha hanya perlu waktu 3 menit.

Saya tidak naik itu. Saya pilih naik mobil. Bisa langsung ke lokasi patung.

Itulah problem utama kereta cepat Yawan nanti. Anda harus naik dari stasiun baru di Halim. Tepatnya di Jalan Wangko, kelurahan Makassar, Halim, Jakarta Timur.

Lalu Anda harus turun di stasiun Padalarang, jauh di luar kota Bandung.

Tapi, itu akan teratasi kelak kalau jalurnya sudah ditambah. Sampai Yogyakarta. Lalu sampai Surabaya. Apalagi kalau disambung lagi sampai Cilegon di barat dan Banyuwangi di timur.

Anda tentu tidak akan kehilangan rasa humor: kalau untuk Yawan yang 100 km diperlukan waktu pembangunan 8 tahun, lalu berapa lama untuk jarak 1000 km.

Tentu tidak harus begitu. Proyek Yawan (Ya Jiada – Wan Long) adalah pertama. Serba sulit. Bekerja sambil belajar. Mikir sambil membaca kehebohan di medsos. Untung Indonesia punya sosok Teflon. Lalu ditambah Teflon besar bernama Luhut Binsar Panjaitan.

Melihat kereta Yawan meluncur di langit Jagorawi rasanya bangga: nih, Indonesia. Kehebohan di medsos pun seperti terlupakan. Setidaknya sementara.

Inilah masa-masa bulan madu kereta cepat. Kagum. Hebat. Bangga. Harga diri bangsa seperti tiba-tiba mirip saham yang lagi naik.

Tiongkok sendiri kini sudah punya 30.000 km jalur kereta cepat. Jauh meninggalkan Jepang yang 3.000 km. Bahkan Spanyol sudah lebih panjang dari Jepang: 4.000 km. Saya pernah mencobanya di rute Madrid-Barcelona.

Amerika pernah nekat mau membangun kereta cepat. Dimulai dari San Francisco ke Los Angeles. Ambles. Sampai sekarang belum jadi. Sudah hampir 20 tahun. Bahkan terancam macet.

Maka apalah arti 8 tahun dibanding itu.

Perlombaan kecepatan kereta masih terus terjadi. Target kecepatan kereta jenis baru itu: 1000 km/jam. Melebihi kecepatan pesawat Boeing 737.

Salah satu ide awal datang dari perusahaan milik Elon Musk. Yakni untuk mengatasi kemacetan lalu-lintas di Los Angeles. Ide itu hampir terlaksana. Tapi perizinan tidak mudah. Akhirnya dibatalkan.

Beberapa negara juga berminat ke sana. Tapi yang serius banget barulah Tiongkok. Serius sekali. Sudah mendirikan pusat riset. Termasuk sudah membangun terowongan sejauh 200 km untuk uji coba.

Uji coba itu pun bukan baru rencana. Sudah dilakukan. Januari lalu. Sudah berhasil: kereta dengan kecepatan 1000 km/jam. Itu nyata.

Lokasi uji coba itu di provinsi Shanxi. Bukan provinsi Shaanxi. Tepatnya di kabupaten Datong. Sekitar 4 jam dari Beijing. Ke arah barat. Dekat dengan perbatasan Mongolia Dalam.

Bagaimana bisa kecepatan kereta itu 1000 km/jam?

Tidak aneh. Kereta itu berjalan di terowongan vakum udara. Lebih tepatnya meluncur. Rodanya sedikit mengambang di atas rel.

Berarti setelah penumpang masuk kereta, pintu terowongan ditutup. Pintunya rapat. Terowongannya tidak boleh bocor. Lalu udara di dalam terowongan diisap dari luar. Terowongan hampa udara. Oksigen untuk keperluan penumpang disiapkan di dalam kereta.

Kereta pun meluncur 1000 km/jam.

Saya sungguh berharap masih sempat mencobanya kelak. Mudahan tidak lama lagi. Beijing-Shanghai hanya 1 jam. Jakarta-Bandung hanya 10 menit. (*)

Komentar Piilhan Dahlan Iskan*

Edisi 2 Juni 2023: Rania Lindi

Kholifatul Isnaeni

Embun, atau emboen, tak hanya ada di CHD kala subuh. Embun juga muncul di lautan pasir Gunung Bromo di Probolinggo pada hari-hari ini. Tak hanya di atas hamparan pasir, butiran-butiran es itu pun menyelimuti pepohonan. Masyarakat di sekitar Bromo menyebutnya embun upas. Membuat Bromo jadi dingin hingga di bawah 10 derajat Celcius. Muncul sekitar pukul 03.00 WIB dan menghilang perlahan setelah pukul 06.00 seiring hadirnya sinar mentari. Fenomena embun di lautan pasir Bromo kabarnya hanya berlangsung selama tiga bulan, Juni sampai Agustus. Kalau mau bersama emboen, bulan ini waktu yang bagus untuk berwisata ke sana. Menunggu matahari terbit sambil baca CHD yang baru terbit.

 

Kholifatul Isnaeni

Lalu menulis puisi emboen. Emboen itu cintaku. Air suci yang menyucikan. Bening di atas daun. Meresap ke dalam sukma. Mengisi dahaga duniawi. Sebelum datangnya pagi.

 

imau compo

Emboen pagi Katakan yg sebenarnya Apakah betul kau bahagia dengan teman barumu? Pasir laut di IKN Pasir laut di Singapura Kalau demikian kalian, emboen pagi dan pasir laut adalah makhluk kosmopolitan Bersolek warna warni Aku tetap khawatir meskipun kau bahagia dengannya Laut yg dalam merindukannya kembali Aku takut Dia bisa ganas jadi tsunami….

 

Choirul Anwar

Ada banyak Rania lain, sebelum2nya dan yang akan datang. Sayangnya minim sekali dukungan kepada mereka. Bahkan untuk sekedar “percepatan” hak paten. Seperti sebelum2nya, mereka hilang lenyap atau dimanfaatkan oleh negara lain. Dan emboen itu pun menguap sia-sia

 

Udin Salemo

@all Kalau login dan “login” lancar jaya semuanya terasa mudah. Pagi pasti penuh inspirasi dan semangat. Emboen tak pernah memandang Anda punya masalah atau tidak, dia akan selalu memberikan kesejukan setiap pagi. Pagi sekali.

 

Er Gham

Minum setengah gelas air tebu sebelum tidur malam hari. Esok pagi, cek. Apakah berkurang baunya saat lepaskan hajat panggilan alam.

 

Juve Zhang

Air sampah plus sukrosa limbah tebu itu formula yg akan di patenkan. Kalau Bau Badan kata Abah belum ada obatnya .melihat formula paten diatas mungkin bau badan bisa hilang dengan formula air kencing sendiri satu gelas kecil plus air tebu yg di giling mesin yg suka dijual di pinggir jalan satu gelas juga coba campurkan jadi dua gelas minum rutin siapa tahu bau badan sembuh. Hak paten dari juvezhang wkwkwkkwk.

 

Xiaomi A1

Benowo..berasal dari nama Pangeran Benowo yg merupakan putra Sultan Hadi Wijaya atau yg lbh kita kenal sbg Joko Tingkir.. Pangeran Benowo sempat menjadi Adipati Pajang, namun tdk lama krn lebih memilih berdakwah menyebarkan agama..

 

Jokosp Sp

Sepintas buka tadi memang fotonya eye catching. Dan foto keduanya juga bagus action nyemprot eco-lindinya. Apalagi ada latar belakang Dozer dengan operator yang siap dorong, menambah nilai dalam foto itu. Tapi ada yang kurang, yaitu Rambu STOP kenapa harus roboh?. Itu penting, salah satu rambu keselamatan. Pelanggar bisa menyebabkan incident/ kecelakaan jika dilanggarnya. Tulisan di bawah foto: eco-lindi untuk mencegah sampah di TPA Benowo ( masak sih eco-lindi bisa mencegah sampah?). Mencegah………..harusnya ada terusan di belakangnya: mencegah bau sampah di TPA Benowo. Aksi nyemprotnya Rania juga sudah sangat oke. Cuma kulit tangan yang halus tolong disayangi ya, pakai sarung tangan biar kulit yang halus itu gag sampai lecet kena clamp hose. Sarung Tangan adalah bagian dari keselamatan, apalagi pakai Helmet Safety………duh semakin cuantik dan smart saja terlihat.

 

Kang Sabarikhlas

Emboen Pagi kau bening cerah/

kenapa aku koq pening gelisah/

Ini lho tanggal muda rasa tua/ belum juga masuk transferannya/

……… duh, njagakno ndogke pitik blorok.

 

Agus Suryono

KALAU TERLAMBAT LIAT EMBOEN.. Liat aja Rania. Yang muda. Yang berkarya. ###Semoga 10 tahun lagi tiba-tiba ada berita pemenang Nobel. Dari tataran Sidoarjo.. Dengan full support dari yang “berwajib” memberi support..

 

Xiaomi A1

Ternyata lapangan bola yg dipake Pildun U-20 di Argentina rumputnya jelek2.. Bagus punya kita jauh.. Rasa dongkol itu muncul lagi setelah kmarin mereda dgn emas seagames..

 

Jimmy Marta

Emboen pagi jang bening. Tetesannja dipakai oentoek pidjat oeroet. Bagi balita jang lambat djalan. Doeloe saat di barat kota Kini tinggalku di timur Embun paginya sudah cemar. Polusi Bau dari pabrik karet mentah Debu dari pabrik semen. Mungkinkah Eco lindi bisa jadi solusi. Mengembalikan sang embun Seperti Rania Laura yg bening dan bermanfaat

 

imau compo

Waktu dulu mau lamar S2 Manajemen, panitia memberikan bahan uji, buku Manajemen. Sangat bagus, meskipun tidak jadi ikut, ilmunya masih lekat. Di bawah ini satu yg lekat. Secara kenegaraan, sistem manajemen negara Jepang sangat efisien. Salah satu itemnya masalah sampah. Mereka memilah sampah mulai dari rumah. Masing-masing warna tong sampah bermuara di tempat yg berbeda, lansung masuk pabrik plastik, metal dan pupuk dengan hanya sedikit intervensi. Alih-alih jadi masalah malah jadi nilai tambah. Kita? Semuanya jadi masalah. Dimulai dari bau (untung ada Rata). Pemulung yg naik ke bukit sampah tidak jarang tertimbun dan tewas. Jiwa menjadi tidak berharga. Sampah diolah dengan kilang impor yg belum teruji padahal limbah ini sangat berbahaya. Rara diabaikan, Mikrajudin dulu yg pernah jadi feature CHD dan mahasiswanya, riset bakaran sampah yg dapat jadi bahan bangunan tahan api berlalu tanpa berita. Malah BRIN membubarkan BPPT yg dulu berusaha jadi interface riset dan manufaktur. Masih optimis kita lompat meninggalkan status income medioker?

 

Leong Putu

Di CHD ini, yang ndak percaya saya bijak dan tampan dan setia, Itu cuman Bapak yang PP huruf M warna ungu… Saya ndak mau sebut nama, takut beliaunya itu besar kepala.

 

MULIYANTO KRISTA

Tanggal muda, libur panjang, rekening masih penuh. Akhirnya bisa komentar serius dan bijaksana. ….. Mantab benerrrrr.

 

Leong Putu

Permasalahan utamanya adalah sampah. Sampah yang tidak diolah, namun hanya dipilah. Yang punya nilai jual diambil, yang nir nilai ekonomi diniarkan menjadi onggokan. Ditimbun terus dan lagi. Atau diolah juga, namun volume yang datang, lebih besar dari kemampuan mengolahnya. Lalu jadi bukit lalu jadi gunung lalu jadi masalah. Penghilang bau, itu bagus. Namun itu hanya terapi bukan solusi. Solusinya harus dipilah dan diolah secara maksimal. Dari rumah tangga harusnya sudah harus dipilah. Sampah organik dan non organik dipisah. Yang non ornagik bisa dicegah jangan sampai ke TPST atau TPS dengan jalan reuse atau recycle (teorinya begitu..hhhh). Kalau tidak mau repot, jual ke tukang rosokan saja. Simple. Untuk sampah organik (dedaunan) bisa ditimbun, dijadikan pupuk, kalau masih ada pekarangan. Kalau tidak ada, apa boleh buat. Buang ke TPS. Dengan diolah dan dipilah dari hulu (rumah tangga), beban TPS akan berkurang. Jangan semua dialirkan ke TPS. Pasti tidak mampu. Pegawai / pekerja di TPS anggaplah 100 orang, yang buang sampah 3 juta orang tiap hari. Tidak sepadan, pasti overload. Pasti jadi masalah. Menghilangkan bau sampah itu baik. Namun lebih baik lagi jika dipilah dan diolah secara maksimal. Kalau cuma dihilangkan, akan tetap jadi masalah. Macam Harun mas iku dan sekarang ada Di to ma hen dra. … Salam.

 

Er Gham

Emboen pagi nihil di atas tumpukan sampah. Meskipun udaranya dingin sekalipun. Hal ini disebabkan adanya uap panas yang keluar dari tumpukan sampah.

 

Er Gham

Baru sadar. Banyak anak perempuan diberi nama Linda. Dan tidak ada yang diberi nama Lindi.

 

Jo Neka

Apakah Eco Lindi bisa mengurangi Bau Busuk niat politisi?.

 

Xiaomi A1

Selama ini saya bingung, meskipun udah dirazia berlapis kok tetap ada aja suporter yg nyalain flare kembang api di dlm stadion.. Owalah ternyata flare nya di taruh di dalam nasi bungkus yg tentu saja lolos dari petugas, flare nya dibungkus plastik terus ditumpukin nasi dan lauknya.. Kapan majunya sepakbola Indonesia klo suporternya slalu kyk gitu hehehe..

 

mzarifin umarzain

Pelapor korupsi diberi insentip 20% dari hasil korupsi yg berhasil disita negara?

 

Handoko Luwanto

Riset air lindi terinspirasi dari air yg dituang ke “mangkuk” kulit durian untuk menghilangkan bau durian yang menempel di jari. Jadi sesuatu yang berasal dari sumber bau dipakai untuk menghilangkan baunya sendiri. Mungkin koruptor juga terinspirasi dari air lindi. Dari uang hasil korupsi diambil sebagian untuk bersedekah sampai membantu anak yatim. Agar uang haram tersebut tidak mengeluarkan “bau” yg bisa terendus dari jauh.

 

Liam Then

*Disklaimer* Teknik makan durian beda-beda jangan dimodifikasi sebagai alasan untuk poligami. Senin istri pertama, Kemis istri kedua, Sabtu istri ketiga, rasanya beda, tapi pusingnya gila. Ini bahaya.

 

Liam Then

Percaya tidak percaya, memang Iyah. Dulu juga diajarin begitu, cuci jari cekungan kulit durian. Kemudian diminum airnya, bisa jadi tambah pinter, efeknya menjadi tahu, kalo sudah tertipu, ternyata tak tambah pinter. Secara teori itu sudah satu level lebih pinter, daripada tidak tahu sudah tertipu. Di kita sini banyak loh yang belum tahu sudah tertipu. Cuma teori pribadi sih, kwkwkkwkw. Gegara jalan di perbatasan Malaysia tambah mulus, durian menjadi mahal di Pontianak. Ternyata mereka juga doyan durian Indonesia. Padahal mereka sana sudah punya musang King. Tapi makan Musang King, Monthong apa nikmatnya, buka jirolu dan seterusnya,sama saja rasanya. Orang Kuching sudah tau, lebih enak makan durian buka satu manis legit, buka nomer dua manis pahit, buka yang ketiga dicucup eh rasa susu mentega. Ini hanya bisa dirasakan kalo makan durian Indonesia. Kalo di sinetron ada legenda Sengsara Membawa Nikmat, di perdurianan Indonesia, harus didorong slogan ; Perbedaan membawa nikmat. Saya usul buat para kepala daerah, kontes untuk petani durian harus digalakkan, kasih hadiah gede, misalnya rumah ,Pajero ato apa. Kemudian durian juaranya di lelang, mau secara online atau real-time. Biar sensasional. Thailand punya monthong, Malaysia punya Musang King. Indonesia nanti sebaiknya keragaman rasa berkualitas yang di andalkan. Ini kan teori lawas manajemen. Nilai ekspor Thailand ke Tiongkok, 44.5 triliun, 700.000 ton. Emangnya ngga ngiler?

 

Kang Sabarikhlas

Alhamdulillah meski cuaca terik, disini.. ya disini di komen CHD suasana teduh mungkin diatas sudah disemprotkan Lindi oleh mbak Rania jadi tak ada bau busuk yang bisa buat gaduh. Lihatlah Pak Pry cuma ngomong ‘setitik’ dan apik, juga tokoh bung KS ‘anti mainstrem’ ndak muncul. Yang beruntung bli Leong P bisa memanfaatkan kesempatan koh Liam Then kehabisan ide² sbb kemarin terlalu banyak di obral maka segera bli Leong P keluarkan komen jurus cap kadal…. ………. anu…Demikian laporan sementara pandangan mata di lapak perusuh… maaf saya ngantuk, ndak seru sih.

 

Liáng – βιολί ζήτα

Kita mesti memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas upaya Rania Naura Anindhita Amig menetralkan Lindi agar tidak lagi menjadi sumber polusi. Namun demikian upaya serupa dengan metode yang berbeda sudah banyak dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi. Salah satunya : Pengolahan Lindi dari tempat pembuangan akhir sampah menggunakan Metode Constructed Wetland, yang dilakukan oleh Jurusan Kesehatan Lingkungan – Politeknik Kesehatan Tanjung Karang. Oleh karena itu, semakin banyak penelitian yang disertai uji coba untuk mengatasi masalah yang sama sekalipun, akan semakin baik dan tetap akan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan di tanah air. Pada akhirnya memang, dari sekian banyak penelitian dan berbagai uji coba tersebut, yang paling efisien dan efektif lah yang akan dijadikan standar.

 

Rffnaaa Tharyyy

Jurusan kimia memang mudah untuk dilakukan, tetapi saat praktikum kalau salah dikit bisa fatal. Jadi harus hati-hati bukan jaga hati yyaa Hehehehehheee kangen pembelajaran kimia waktu disekolah….

 

Samsul Arifin

Ingat WC U20. Ingat Si Rambut Putih. PEMBATALAN WC U20 SEPERTI MAU NIKAH DAN SUDAH SEBAR UNDANGAN DAN TETEK BENGEKNYA TIBA TIBA DITINGGAL PERGI….. SAKIT RASANYA…. TIDAK ADA OBAT…

 

Rffnaaa Tharyyy

Emboen Sore Ketika Daun jatuh ke tanah bibit cintamu ditiup oleh angin topan musnah ditelan oleh bumi. Angin itu sangat kencang seiring berjalannya mengarahkan harus kemana bibit cintamu ini apa jalur kebahagiaan atau musnah. Kau hanya perlu untuk memilih antara kebahagiaan atau musnah ditelan oleh bumi. ketika mata kau hanya untuk sekedar penasaran saja, tapi saat bertemu dengan bibit cintanya kau senyum-senyum sendiri saat melihat miror kecil itu. Gimana nihh lanjut apa tidak kisah si bibit cinta ini, apa berhenti sampai sini saja…..

 

m note

kasihan ranting, dahan dan daun. dia yang ditinggal pergi, dia yang dianggap tidak setia 🙁

 

Mbah Mars

Emboen pagi memang tidak pernah lupa pada ranting, dahan dan daun yang singgahinya. Ranting, dahan dan daunlah yang tidak setia karena esok harinya ia bermesraan dengan emboen pagi lainnya.

 

 

Amat K.

Emboen pagi Daun padi tertunduk tak kuasa menahan kepergiannya Emboen terlepas Daun membingkas Berpisah itu niscaya Emboen tentu tak pernah lupa pada batang daun yang pernah bersamanya

 

Liam Then

Semalam saya ketemu satu video pendek dari India. Penjual minuman bersoda di kaki lima. Tiga botol plastik 1.5 liter , dipasang ke sebuah alat, mulutnya botol di hubungkan ke soket semacam pipa besi yang terhubung dengan tabung gas CO2. Kemudian diengkol dengan tuas manual, botol berputar-putar mencampur karbon dengan air. Hasilnya menjadi minuman bersoda produksi kaki lima. Melihat proses engineering produksi sederhana, yang bahkan sudah mencapai lokasi kaki lima di India. Saya jadi mahfum, tak heran India mampu secara swadaya luncurkan roket antariksa, untuk orbitkan satelit. Terima order dari mana-mana. India sepertinya akan menjadi Tiongkok ke-2 , tanda-tandanya sudah ada dan terlihat. Kalo di Indonesia, saya kira masih gamang, entah mau ikut yang mana, jadi raksasa teknologi dunia masih jauh, jadi lumbung pangan atau destinasi wisata dunia juga masih nanggung. Pilih yang mana kira-kira Bang Imau?

 

imau compo

Pemerintah sering diejek manajemen autopilot kalau pertumbuhan ekonomi 5%. Mumpung topik CHD mengenai sampah, saya tuliskan kuliah Prof. Gunawan Sumodiningrat yg juga mencakup sampah untuk membantu pemerintah berautopilot. Konsep umumnya diformulasikan dalam kalimat: “Produksi sendiri, konsumsi sendiri kelebihannya dijual ke luar.” Sendiri di sini bisa dimaknain dalam lingkup keluarga, RT, RW, kelurahan dab seterusnya negara. Sistem tadi didorong produktif, manfaatkan setiap jengkal spasi tempat tinggal kita utk produksi, baik pangan (tanam padi sendiri (beras), sukun untuk karbohidrat, ternak ayam, puyuh, ikan dstnya utk protein hewani, recycle limbah mesin cuci atau mobil utk permesinan kecil utk produksi listrik maupun produk lainnya). Demikian juga limbah sehari-hari, didorongnya utk di-recycle oleh pemilik limbah, jadi pupuk, cendera mata dan permesinan kecil. Profesor Gunawan tidak asal omong saja, dia turun ke lapangan membina pemulung atau keluarga-keluarga yg berminat. Salah satu pemuluung sdh jadi juragan besar saat ini. Paling tidak, sejak mendengar kuliah beliau, setiap limbah di rumah, saya coba selesaikan di rumah sebelum saya buang ke tong sampah. Bila masyarakat seluruhnya melakukan ini, autopilot tahun depan 7% dan kita bisa meninggalkan status negara medium income. Semangat!

 

Liam Then

Saya kepengen ada penelitian, survey atas program yang dulu habis banyak, kursus online semasa pandemi. Efeknya sejauh mana. Berapa dana negara habis, hasil berapa persen. Apakah efektif. Agar bisa jadi tolak ukur kedepannya.

 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Visited 1 times, 1 visit(s) today

No More Posts Available.

No more pages to load.